aku masih memiliki cara untuk mengungkung waktu
menyimpan rasa hingga kelak kau menjemputku
aku juga terus memperbaiki diriku
karena berharap yang terbaiklah yang datang padaku
Sumber Gambar: http://www.sxc.hu/photo/1283770
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Februari 2014
Rabu, 06 November 2013
ruang
Bagaimana aku harus mengungkapkannya?
Pada jarak yang tak berujung
Juga rindu yang tak berkesudahan
Siapa lagi yang harus kutanya?
Resah hati yang tak bertuan
Pula cerita yang tlah usang
I write this poem when i feel so far away with Allah
My
room, october 28 2013
08:44
PM
Minggu, 23 Juni 2013
berjalan diatas kakiku sendiri
Aku berharap sekali,
Bahwa mereka bisa menjadi contoh untukku
Aku juga pernah berdo’a berkali-kali
Bahwa mereka akan semakin dewasa seiring berjalannya waktu
Kosong
Kamis, 22 November 2012
Ia akan jadi yang pertama
Saya memilih mengungkapkannya
Karena dengan begitu tak akan ada perasaan yang tersisa
saya akan melupakannya
karena dengan begitu, hanya yang pantaslah yang akan jadi
yang pertama
Rabu, 26 September 2012
Kau cantik dengan jilbabmu
To all women around the world,
Hey, kau!
Kau cantik dengan cara yang tak bisa kujelaskan
Kau begitu mempesona saat mengusap keringat dibalik jilbabmu
Kau cantik dengan hal-hal yang sederhana
Kau yang begitu manis meski tak sedikitpun make up diwajahmu
Kau cantik dari hatimu
Kau yang hanya berhias untuk suamimu kelak
Kau cantik meski memakai pakaian syar’i
Kau yang membuat semua mata menatap santun kepadamu
Kau cantik meski tanpa suara
Kau!
ya, kau! Kau yang cantik dengan jilbabmu
Fachrunissa NH
Corner
my dormy room 00:16 Thursday 6 sept 2012
Jumat, 27 April 2012
kusebut hunian baru
Secara tak
sengaja,
Kubaca anggaran
di koran jajakanku pagi ini
Tentang surga
yang hendak mereka bangun
Tempat kerja
bermandikan kebahagiaan dunia
Aku terhenyak
melihatnya
Tak terbendung
jumlahnya
Akupun berceloteh
panjang lebar kepada ibuku
Ketika ia membalutkan
obat merah murahan di lututku
Karna lututku
terserempet kendaraan bermotor ketika aku bekerja
Kau tahu apa
reaksinya?
Berapa jumlahnya
pun ia tak tahu
Karena ekor
bilangan angka dibelakangnya terlalu panjang
Untuk ia artikan
dalam sebuah nominal
Oh iya
Aku baru ingat !
Duduk di bangku
sekolahpun
Belum pernah
dienyamnya
Tak kurang dari 1
trilyun mak
Aku mengartikan
pada ibuku
Ia masih tak
mengerti
berapa jumlah
yang hendak mereka hamburkan
biar kuperjelas
pada ibuku
kalau dibuat naik
haji se kabupaten cukup mak
ia hanya
mengeleng-gelengkan kepala
karena menabung
seumur hidup pun
belum mampu
mencukupi biayanya
kusudahi saja
pikirku tentang mereka
karna tak kan
mengubah apa yang ada
mungkin hanya
do’a dan beberapa bulir air mata
agar mereka tak sekedar
bicara tapi membuktikan mulut besarnya
corner
warungku
Saturday, 6:54 pm 5/ 14 / 2011
Kunjungan kerja?
German yang
kalian pilih
Mendengar kalian
menjejaki negri itu
Sendu
Katanya kunjungan
kerja
Ternyata hanya
wisata keluarga yang dibiayai negara
Malu?
Jangankan
memilki, ditanya saja mungkin kalian tak tahu
Ngakunya hi-tech
Nyatanya,
Email saja tak
punya
Mungkin ada satu
semangat
Semangat
menghabiskan uang rakyat
Minggu, 30 Oktober 2011
jadi yang terbaik
Meraih mimpi
Itulah yang masih tersisa dariku
Meski terasa berat
Mimpi itu terus
merangkulku
Derak tawa mimpi
masih saja membuatku enggan membuka mata
Terlalu indah ’tuk
dikubur begitu saja
Akupun begitu
yakin suatu hari ia akan sangat dekat denganku
Karena ku tlah
menggenggamnya
Karena itu,
Takkan semudah
itu aku melupakannya
Takkan semudah
itu aku membiarkana pergi
Kan kuraih dengan
segenap energi yang kupunya
Karna saat aku
mengejarnya aku begitu yakin bahwa Allah selalu bersamaku
Denganmu kuraih
mimpiku
Terkadang
bayang-bayangmu masih saja melekat di benakku
Ya,
Hanya lewat
sebuah goresan tinta kan kuwujudkan mimpi itu
Lewat sebuah pena
Dengan rangkaian
kata
Apakah kau
percaya?
Kamis, 27 Oktober 2011
hal terindah
Sekalipun seluruh gunung tlah kudaki
Beribu samudra kuarungi
Semua itu tak kan ada arti
Jika tanpa restumu ibu…
Meski dunia dalam genggaman
Emas dan intan bergelimangan
Tanpamu disisiku,
Apa jadinya aku?
Semua terasa sama
Tak ada rasa
Karena kebahagiaanku
Melihatmu tersenyum kepadaku
Beribu samudra kuarungi
Semua itu tak kan ada arti
Jika tanpa restumu ibu…
Meski dunia dalam genggaman
Emas dan intan bergelimangan
Tanpamu disisiku,
Apa jadinya aku?
Semua terasa sama
Tak ada rasa
Karena kebahagiaanku
Melihatmu tersenyum kepadaku
malu kubilang mereka pemimpinku
Secara tak sengaja,
Kubaca anggaran di koran jajakanku pagi ini
Tentang surga yang hendak mereka bangun
Tempat kerja bermandikan kebahagiaan dunia
Aku terhenyak melihatnya
Tak terbendung jumlahnya
Akupun berceloteh panjang lebar kepada ibuku
Ketika ia membalutkan obat merah murahan di lututku
Karna lututku terserempet kendaraan bermotor ketika aku bekerja
Kau tahu apa reaksinya?
Berapa jumlahnya pun ia tak tahu
Karena ekor bilangan angka dibelakangnya terlalu panjang
Untuk ia artikan dalam sebuah nominal
Oh iya
Aku baru ingat !
Duduk di bangku sekolahpun
Belum pernah dienyamnya
Tak kurang dari 1 trilyun mak
Aku mengartikan pada ibuku
Ia masih tak mengerti
berapa jumlah yang hendak mereka hamburkan
biar kuperjelas pada ibuku
kalau dibuat naik haji se kabupaten cukup mak
ia hanya mengeleng-gelengkan kepala
karena menabung seumur hidup pun
belum mampu mencukupi biayanya
kusudahi saja pikirku tentang mereka
karna tak kan mengubah apa yang ada
mungkin hanya do’a dan beberapa bulir air mata
agar mereka tak sekedar bicara tapi membuktikan mulut besarnya
Saturday, 6:54 pm 5/ 14 / 2011
Kubaca anggaran di koran jajakanku pagi ini
Tentang surga yang hendak mereka bangun
Tempat kerja bermandikan kebahagiaan dunia
Aku terhenyak melihatnya
Tak terbendung jumlahnya
Akupun berceloteh panjang lebar kepada ibuku
Ketika ia membalutkan obat merah murahan di lututku
Karna lututku terserempet kendaraan bermotor ketika aku bekerja
Kau tahu apa reaksinya?
Berapa jumlahnya pun ia tak tahu
Karena ekor bilangan angka dibelakangnya terlalu panjang
Untuk ia artikan dalam sebuah nominal
Oh iya
Aku baru ingat !
Duduk di bangku sekolahpun
Belum pernah dienyamnya
Tak kurang dari 1 trilyun mak
Aku mengartikan pada ibuku
Ia masih tak mengerti
berapa jumlah yang hendak mereka hamburkan
biar kuperjelas pada ibuku
kalau dibuat naik haji se kabupaten cukup mak
ia hanya mengeleng-gelengkan kepala
karena menabung seumur hidup pun
belum mampu mencukupi biayanya
kusudahi saja pikirku tentang mereka
karna tak kan mengubah apa yang ada
mungkin hanya do’a dan beberapa bulir air mata
agar mereka tak sekedar bicara tapi membuktikan mulut besarnya
Saturday, 6:54 pm 5/ 14 / 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



